Hukum pacaran di bulan ramadhan



Pacaran merupakan hal yang tidak bosan-bosannya dibicarakan, termasuk pada bulan ramadhan saat ini. Kata pacaran memang kerap di kaitkan dengan generasi muda khususnya para remaja yang sedang berdua-duaan.

Istilah pacaran sama sekali tidak dikenal dalam Islam. Jika sejauh ini pacaran dianggap proses menuju pernikahan, maka dalam Islam hanya dikenal istilah taaruf sebagai proses menuju jenjang khitbah (lamaran) sebelum akhirnya nikah. Taaruf yang dimaksud dalam Islam tidak sama dengan gaya pacaran yang dikenal kebanyakan orang, meski mungkin dalam pacaran ada juga proses seperti taaruf.

apapun pengertian dan maksud dari pacaran, sungguh merupakan sikap yang cerdas bila generasi muda tidak mendekatkan diri pada kubangan pergaulan bebas dengan lawan jenis yang memberi peluang yang sangat besar untuk terjadinya pelanggaran terhadap aturan Allah dan Rasul-Nya. Sejauh ini, belum satu orang pun yang bisa menggali kemaslahatan pacaran dan yang terjadi malah banyak kasus penyelewengan, penyimpangan sikap, penurunan prestasi, dan lain sebagainya. Semua itu adalah akibat buruk pacaran. Perhatikan ketarangan berikut.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (Q.S. An-Nur [24]: 30)

Islam sangat mengerti fitrah setiap manusia sebagai makhluk yang memiliki cinta dan syahwat. Tapi Islam sebagai agama yang sempurna dan bijak menuntun kita agar tetap berada dalam kefitrahan yang sesungguhnya. Tidak lantas dengan alasan cinta, syahwat terhadap lawan jenis diikuti begitu saja sampai akhirnya terjerumus dalam jurang kenistaan.

Kehadiran Ramadhan bisa menjadi ajang untuk lebih melatih diri dalam memposisikan cinta dan syahwat. Terlepas dari apa itu pacaran, pastinya kita lebih ditekankan untuk lebih arif dalam menyikapi Ramadhan dengan lebih menyibukkan diri dalam beribadah dan ketaatan kepada Allah Swt. Sekali lagi, pacaran sebagaimana kita diketahui, lebih banyak memberi peluang perbuatan dosa sehingga dapat menyebabkan sia-sianya Ramadhan yang sangat berharga ini.


Saya yakin para sahabat muda sadar bahwa jodoh ada di tangan Allah. Nah, kesadaran tersebut cukup kiranya dijadikan pijakan untuk bertanya apa sebenarnya manfaat pacaran. Siapa yang berani menjamin bahwa seseorang yang dipacari akan membawa kebahagiaan abadi dan cinta sejati? Siapa pula yang dapat menjamin jika berpacaran tidak membawa dampak buruk pada diri yang bersangkutan kelak di kemudian hari? 

Islam mengajarkan kita untuk mencintai seseorang hanya karena Allah. Bukti cinta yang didasari cinta kepada Allah adalah senantiasa menempatkan cinta di jalan yang diridoi Allah dan bukan mengikuti gaya atau tren pergaulan modern yang tidak menguntungkan.

Mengapa Islam menekankan hal ini. Tidak lain karena masalah cinta tidak bisa dianggap remeh. Cinta adalah bagian dari unsur keimanan. Rasulullah Saw. bersabda:

“Dari Anas bin Malik, dari Nabi Saw., beliau bersabda: ‘Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman. Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (H.R. Bukhari)
Jadi, saat selain bulan ramadhan saja pacaran dilarang bahkan sebagian ulama mengharamkannya, apalagi hal tersebut dilakukan di bulan ramadhan. Semoga kita semua diberikan keteguhan dalam melaksankan perintah Alloh, termasuk menahan diri untuk tidak berpacaran. Wallahu a'lam
semoga artikel ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat untuk kita semua 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

kematian menurut pandangan islam

apa itu brexit ?

Malam Lailatul Qadar